Siapapun yang melahirkan (kasta yaitu pengkategorian golongan berdasarkan kedudukan dan pekerjaan dari Agama Hindu) untuk membuat (saya sebut : Klasifikasi) Kasta, adalah kekuatan yang sangat luar biasa, yang bertujuan untuk mengklasifikasi jenis manusia sesuai dengan kedudukan yang dilakukan oleh manusia pada waktu itu, untuk lebih jelasnya akan diuraikan satu persatu kedudukan yang ada dalam kasta :
1. Brahmana, adalah para pemuka agama yang pada waktu itu adalah pendeta-pendeta agama Hindu, yang mana kedudukannya sebagai Pendeta yang tugasnya hanya berdoa dan memohonkan kepada Sang Pencipta, agar supaya mengayomi, menaungi, melindungi dan memelihara Umat Manusia (tanpa membedakan) dari segala musibah, seorang Pendeta idealisme nya : setiap saat selalu berdoa tidak hanya untuk dirinya dan keluarganya saja, namun seorang pendeta yang hakikinya pendeta, dia akan senantiasa setiap saat selalu berdoa dan berdoa tanpa henti untuk kepentingan umat manusia, agar supaya terhindar dari musibah, terhindar dari perbuatan jahat, terhindar dari egoisme sempit, terhindar dari nafsu memiliki yang bukan hak nya, terhindar dari nafsu hewani. Seorang Pendeta dengan klasifikasi Brahmana, senantiasa melakukan perbuatan yang selalu baik, tidak mau menyakiti hati orang lain apalagi membunuh atau menghilangkan/melenyapkan sesamanya, dan cenderung tidak mau memiliki yang bukan haknya, cenderung menghindari hal duniawi seperti ingin menikmati kenikmatan sesaat, hidupnya senantiasa berdoa dan selalu berdoa untuk kepentingan yang bermanfaat bagi sesamanya (tanpa membedakan), selain itu seorang Brahmana (pemuka agama), senantiasa mengajarkan dan menyampaikan kepada masyarakat termasuk kepada keluarganya sendiri, untuk melakukan perbuatan yang baik, membantu dan menolong sesamanya, menjauhi perbuatan nista dan tercela. Dengan memiliki beberapa kriteria yang diuraikan diatas, maka status Brahmana sebagai pemuka agama dikala itu, sangat wajar dan sangat pantas disebut sebagai golongan kasta di tingkat yang paling Tinggi.
Ciri-ciri Brahmana : Selalu berdoa untuk kepentingan Umat manusia tanpa membedakan, menjauhi kemewahan duniawi, memencilkan diri, berpembawaan tenang, bijaksana, penuh toleransi, mencintai sesama mahluk ciptaan TUHAN
2. Ksatria, adalah prajurit mulai dari tingkat yang paling bawah sampai Panglima tertinggi Prajurit (yaitu Raja), prajurit atau Raja sebagai Panglima tertinggi dari Prajurit adalah Penjaga, pelindung suatu wilayah yang ditempati oleh berbagai golongan dan dipimpin oleh seorang Raja disebut Kerajaan. Seorang Ksatria, yang merupakan figur sebagai, Penjaga, pelindung atau pengayom suatu wilayah yang disebut Kerajaan, tugasnya adalah mengayomi dan melindungi rakyat yang ada diwilayah tersebut, dari gangguan keamanan, baik gangguan keamanan dari luar maupun gangguan dari dalam, seorang Ksatria secara hakikinya, harus berani mati (mati syahid) membela wilayah atau Negaranya dari gangguan pihak luar maupun dari dalam yang berniat merampas wilayah tersebut atau berniat mengganggu ketenangan warga atau rakyat yang ada disitu untuk mempertahankan wilayah tersebut seorang Ksatria siap dibunuh atau membunuh fihak lain yang ingin merampas atau mengganggu ketenangan kerajaan dimana Ksatria itu bertempat tinggal, artinya seorang Ksatria siap mengorbankan nyawanya untuk mempertahankan wilayah tersebut dan sekaligus siap membunuh siapapun juga yang ingin merampas Negara atau Kerajaan yang menjadi tempat tinggal Ksatria tersebut.
Seorang Ksatria, cenderung mencintai dan setia kepada Negara atau Kerajaan yang menjadi tempat tinggalnya dan seorang Ksatria selain mencintai dan setia kepada Kerajaan, seorang Ksatria harus siap mengorbankan nyawanya sewaktu-waktu (harus lebih mengutamakan kepentingan umum daripada mementingkan kepentingan pribadi) apabila negaranya mendapat gangguan dari pihak manapun, untuk itu seorang Ksatria pasti mempunyai mobilitas tinggi karena seorang ksatria siap ditempatkan dimana saja dalam wilayah Kerajaan yang menjadi tempat tinggalnya. Mengapa Ksatria ditempatkan ke tempat yang Kedua dan bukan yang pertama, sebab meskipun seorang Ksatria siap mengorbankan nyawanya untuk kepentingan Bangsa dan Negara, namun seorang Ksatria apabila ingin menang dalam pertempuran, maka ksatria tersebut harus mengalahkan lawannya atau paling tidak menyakiti hati musuhnya, bahkan membunuh atau melenyapkan musuhnya yang juga sama-sama disebut manusia, meskipun musuhnya tersebut ingin merampas wilayahnya, . . karena seorang Ksatria dalam tindakan klimak dalam perjalanan hidupnya harus membunuh musuhnya (yang juga sama-sama manusia) dengan tujuan mempertahankan dan membela Bangsa dan Negara, sangat tepat dan sangat pantas diklasifikasikan sebagai Kasta tingkatan yang kedua, karena tetap membunuh sesamanya, meskipun dengan dalih mempertahankan Bangsa dan Negara.
Ciri-ciri Ksatria : berwibawa, adil, bijaksana, Setia terhadap atasan, solidaritas tinggi dan berani membela kebenaran
3. Waisya, adalah para pedagang yang menjual barang hasil produksinya atau produksi orang lain yang dibutuhkan oleh siapapun juga dengan cara keliling dimana-mana atau menetap disuatu tempat untuk menjual barang dagangannya, seorang pedagang sangat bermanfaat bagi orang lain yang membutuhkan suatu kebutuhan untuk dirinya. Waisya ditempatkan di kasta yang ketiga disebabkan karena, hanyalah untuk mencari keuntungan bagi dirinya sendiri, meskipun dalam melakukan perdagangan bermanfaat bagi orang lain, namun tujuannya hanyalah semata-mata mencari keuntungan bagi dirinya sendiri dan bukan untuk kepentingan Bangsa dan Negara, sehingga sangat layak dan sangat pantas ditempatkan dalam tingkatan yang ketiga dalam klasifikasi Kasta
Ciri-ciri Waisya : Mobilitasnya tinggi, ramah dan murah senyum terhadap orang lain sekaligus pintar merayu calon pembeli, berwawasan luas dalam melihat kemungkinan-kemungkinan yang menguntungkan dirinya, cerdik dan selalu mencari kesempatan
4. Sudra, adalah seorang petani atau peladang, yang pekerjaannya monoton, yaitu memproduksi bahan baku, seperti menanam padi, menanam palawija lainnya untuk dikonsumsi oleh manusia. Apa yang dihasilkan oleh para petani jelas bermanfaat untuk yang lainnya, yaitu bermanfaat untuk golongan pedagang, golongan Ksatria dan golongan Brahmana. Sudra ditempatkan di kasta yang keempat, disebabkan karena kasta Sudra hanyalah memenuhi kebutuhan untuk mengkonsumsi saja dari hasil kerja yang dilakukan, meskipun apabila hasil produksinya melebihi kebutuhan yang dikonsumsi dirinya sendiri, bisa dijual dan bermanfaat bagi golongan kasta lainnya, namun karena tujuan hanyalah bekerja untuk memenuhi kebutuhan perut saja, maka sangat layak dan sangat pantas, apabila para petani yang sesuai dengan yang disampaikan diatas di klasifikasi sebagai kasta keempat atau kasta yang terakhir.
Ciri-ciri Sudra : mobilitas rendah, lugas bersahaja, kurang bercita-cita tinggi, tidak mau ada masalah dan sederhana
Selain empat kasta yang disebutkan diatas, ternyata ada beberapa golongan diluar klasifikasi 4 (empat) kasta yang sebagaimana disebutkan diatas.
Klasifikasi di luar 4 Kasta sebagaimana disebut diatas adalah sebagai berikut :
1. Paria, kasta Paria adalah orang-orang yang tidak mempunyai tempat tinggal tetap dan hidupnya senantiasa kekurangan dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari, oleh Mahatma Ghandi Golongan Paria disebut sebagai “Kaum Harijan” yaitu orang-orang yang dikasihi Wishnu
2. Candala (dalam pengertian saya, kaum candala bukan hanya golongan pencuri atau perampok saja, termasuk dalam pengertian saya, seorang candala adalah orang yang mengingkari keberadaan kastanya) yaitu orang – orang yang ingkar dari apa yang dimilikinya, sebagai misal, seorang Brahmana yang seharusnya kegiatan sehari-harinya menjauhi kehidupan dunia, malah sebaliknya dia mencari kenikmatan “Surga Dunia”, dengan hidup mewah dan hatinya tidak pernah berdoa kepada SANG PEMILIK SEGALANYA (namun secara kasat mata doanya, sekedar ditunjukkan kepada manusia atau orang lain), agar supaya oleh manusia lain, menilai dan menyebut dia sebagai orang yang beriman, ujung-ujungnya agar supaya dia diberi hadiah-hadiah yang bisa berbentuk barang atau berbentuk uang untuk dapat digunakan menikmati kehidupan duniawi semata, demikian pula seorang ksatria yang ingkar dari Ksatria annya, yang mana seorang Satria harus mementingkan kepentingan umum, malah lebih mementingkan kepentingan pribadi dan seharusnya seorang Ksatria itu mengayomi dan melindungi rakyatnya malah menindas atau memeras rakyatnya sendiri. dan seorang Ksatria seharusnya membela kebenaran malah membela kecurangan, seorang Ksatria seharusnya siap mati membela tanah airnya malah membela penjajah yang menjajah bangsanya. Demikian seorang Waisya, sebagai pedagang, seharusnya menjual barang apapun, harganya harus sesuai dengan mutu barang yang dijual, namun sebaliknya seorang Waisya yang candala adalah selalu memalsukan barang yang dijual, mencari keuntungan tanpa pertimbangan moral atau etika perdagangan, mengurangi mutu, mengurangi isi dan paling jelas adalah merugikan konsumen. Demikian pula seorang Sudra yang ingkar dari ke Sudra annya, adalah mereka yang melakukan perbuatan nista, tidak mau bekerja lagi bermalas-malasan, ingin memiliki yang bukan haknya dan lain sebagainya yang dilarang oleh agama.
STATUS QUA Sebagaimana telah dijelaskan diatas, bahwa yang melahirkan ide Kasta, adalah kekuatan yang sangat luar biasa untuk mengklasifikasi kedudukan seseorang berdasakan yang dilakukan oleh masing-masing manusia yang melakukan sesuatu perbuatan sesuai dengan kedudukan yang disandang oleh masing-masing pribadi yang melakukan perbuatan tersebut. Artinya sangat cocok dan sangat pantas, apabila seorang Brahmana (pemuka agama) mendapatkan kedudukan tertinggi dalam masyarakat, karena seorang Brahmana (pemuka agama) yang melakukan perbuatan secara lahir dan batin dengan segala ciri-ciri ke Brahmana annya, sangat pantas untuk mendapatkan predikat yang tertinggi dalam masyarakat karena dalam kehidupan sehari-harian nya senantiasa berdoa kepada SANG PEMILIK SEGALA NYA, agar supaya semua umat manusia (tanpa membedakan) senatiasa dilindungi, diayomi dan dipelihara SANG PEMILIK SEGALA NYA dari segala gangguan dan musibah serta dijauhkan dari malapetaka dan didekatkan dengan segala kebajikan, keindahan dan kebersamaan. Demikian juga klasifikasi Ksatria berjalan sesuai dengan ciri-ciri Ksatriaannya ditempatkan di kasta kedua, termasuk klasifikasi Waisya dan klasifikasi sudra mendapatkan klasifikasi di masyarakat sesuai dengan masing-masing ciri-ciri klasifikasi predikat Kasta yang disandangnya.
Permasalahannya adalah sementara orang-orang tertentu yang mempertahankan Kasta tanpa diikuti dengan mempertahankan ciri-ciri kasta yang disandangnya, itulah yang menjadi penyebab timbulnya Status Qua, karena orang-orang yang mempertahankan status qua dari kekastaan masing-masing seperti kasta Brahmana (pemuka agama) dan kasta Ksatria, kasta Waisya dan juga kasta sudra sudah tidak lagi berupaya untuk mempertahankan ciri-ciri atau sifat dari kasta yang disandangnya, tetapi tetap berupaya mempertahankan predikat atau kedudukan tetap dalam kekastaannya, seperti misalnya seorang Brahmana (pemuka agama) yang selain mengajarkan perihal kebajikan kepada umatnya juga mengajarkan perihal kebajikan kepada keluarganya khususnya kepada anak-anaknya dan apabila ada salah satu dari anak-anaknya ada yang tidak mampu melaksanakan apa yang menjadi ciri-ciri Brahmana, seperti menjauhkan diri dari kemewahan duniawi, penuh toleransi, mencintai umat manusia tanpa membedakan, bijaksana, berpembawaan tenang, malah berbuat sebaliknya hidup hedonis, tidak toleran, semena-mena dan kebalikan dari ciri-ciri seorang brahmana, tetap dipaksakan untuk menyandang predikat kekastaannya sebagai figur Brahmana (pemuka agama) tindakan atau sikap seperti inilah yang saya sebut status qua, termasuk juga mempertahankan atau memaksakan predikat dari kasta-kasta yang lain seperti Ksatria, Waisya dan sudra.
Permasalahan yang sebenarnya untuk saya sampaikan tentang Klasifikasi Kasta, adalah sikap mempertahankan kasta dalam arti Status Qua ternyata juga melanda pemuka-pemuka agama-agama lain yang pada awalnya menyamakan semua orang tanpa melihat perbedaan status, kekayaan yang dimiliki dan tidak membeda-bedakan dalam tingkatan kasta, namun dalam penerapan sehari-hari dari waktu kewaktu akhirnya sampai sekarang, sudah berbeda dari asal muasalnya, yang mana dahulu pada waktu muncul sebagai awal tidak membeda-bedakan status, namun sekarang sudah berubah malahan berusaha mempertahankan predikat status lebih dari yang lain untuk keturunanya yang jelas-jelas tidak mampu mempertahankan ciri-ciri (atau tingkah laku) penyandang predikat status lebih dari yang lain, artinya klasifikasi kasta yang ada di agama Hindu ternyata, baik langsung maupun tidak langsung diikuti oleh pemuka-pemuka agama lain (yaitu agama-agama yang pada awalnya menyampaikan adanya kebersamaan tanpa perbedaan bagi umatnya), dalam artian kulitnya bukan isinya, “karena mereka hanya mengikuti pola mempertahankan kasta (status quo) dan bukannya mengikuti tujuan daripada hakekat adanya pengklasifikasian kasta”
Khususnya kepada para umat Hindu . . saya tidak ada niat sedikitpun baik secara lahir maupun secara batin untuk merendahkan perihal asal muasal adanya klasifikasi Kasta . . malah saya sangat menghormati adanya asal muasal adanya klasifikasi Kasta, yang bagi saya merupakan hasil yang luar biasa, sehingga pengklasifikasian kasta, menurut pandangan saya bukan membeda-bedakan seseorang yang berkasta Sudra lebih jelek daripada kasta Waisya, Ksatria dan Brahmana, namun pengklasifikasian kasta merupakan “pengklasifikasian ukuran atau isi yang ada dari diri masing-masing, sehingga ukuran yang ada dalam diri masing-masing sesuai dengan predikat yang disandang dari diri masing-masing”, sehingga menurut saya tidak ada yang lebih jelek dan tiada yang lebih (kecuali para candala yang mengingkari predikat yang disandangnya). dan selanjutnya apabila apa yang saya sampaikan ini menyinggung perasaan dari sahabat-sahabat umat Hindu, sebelumnya saya mohon maaf sebesar-besarnya, sebab niat saya menyampaikan pengklasifikasian kasta hanyalah untuk memberikan umpan untuk mendapatkan komentar yang nantinya bisa saya jadikan sebagai bahan analisis saya, untuk mengkaji lebih dalam tentang Pengklasifikasian Kasta dan pengembangannya setelah adanya pengklasifikasian kasta.
Demikian pula kepada sahabat-sahabat dalam face book, saya tidak bermaksud membuat sensasi, namun saya berniat memberikan umpan dengan tujuan agar supaya mendapatkan komentar – komentar yang nantinya bisa saya jadikan sebagai bahan analisis saya, untuk mengkaji lebih dalam tentang klasifikasi kasta dan segala pengembangannya setelah adanya pengklasifikasian kasta dan tak lupa pula saya sampaikan maaf yang sebesar-besarnya apabila ada kalimat atau tulisan saya baik langsung maupun tidak langsung kurang berkenan dihati sahabat-sahabat saya dalam face book ini.
Surabaya, 29 Maret 2010
Hormat saya
Slamet Julianto (cak Bagong)
0 Tanggapan ke ““Pergeseran Nilai””